Rabu, 05 Juli 2017

Full Mancing di liburan Idul Firti 1438 H

dusun Balai nanga
Pari Sungai Kapuas
Assalamualaikum...
Ketemu lagi nih sama nelayan amatir dengan cerita seputar tipu menipu ikan. Hahahaha, walau pada kenyataannya bukan hanya ikan yang ditipu dan tertipu. Okeh langsung hajarrrrrr...


H - 3 Lebaran aku bersama isteri dan si bungsu melakukan perjalan mudik menuju kampung halaman. Berangkat dari Pontianak pukul 05.30 pagi dan alhamdulillah tanpa halangan berarti sampai di Sanggau pukul 11 siang lebih dikit. Selesai sholat Jumat di Masjid Mujahiddin  keluarahan beringin, aku memutuskan meneruskan perjalanan ke dusun Balai Nanga karena sudah tidak sabar untuk segera test beberapa lure baru yang aku punya, targetnya, si Lais Tebiring ( Belodontichthys dinema ) si gigi jarang yang dulu sering kupancing dengan umpan ikan seluang hidup.

Setibanya di Balai Nanga, kehebohan pun membuncah ketika si bungsu bertemu kembali dengan kedua kakaknya. Langsung lengket ke sana ke mari bersama kakak-kakaknya.

Alkisah, sembari ngobrol dengan paman dan bibi yang menyambut kedatangan kami, aku setting perangkat perang. Pak Nis nyeletuk ringan ketika melihat umpan pancingku hanya sebuah besi putih yang sudah kusam. Beliau seperti tidak yakin aku bakal dapat ikan hanya bermodalkan besi dan mata pancing doank tanpa umpan lain yang terkait di mata pancing. Aku mencoba tersenyum seraya menjelaskan kalau aku hanya meniru-niru adegan mancing di tv, siapa tau dapat ikan gede, hahahahahaha...

Singkat cerita, pukul siang aku sudah berada di seberang dusun Balai Nanga. Menambatkan sampan di bawah sebuah bantang kayu mati yang melintang ke tengah, lempar sana lempar sini, nihil. Bergerak ke hulu sedikit tepat di sebuah batu besar aku singgah. Berdiri di atas batu, menarik nafas sejenak, memandang ke seberang... ke dusun, ke tempat dimana anak isteriku berada, ke tempat di mana aku mulai belajar dewasa, ke tempat di mana sejuta kisah bermula... ah... kelenaanku terpenggal seketika, loncatan ikan-ikan kecil di hilir batu menjadi salah satu penanda bahwa buruanku ada di sana. Dalam beberapa kali lemparan spoon putih kusam mendapat sambaran kecil, sayang miss. Hingga ku putuskan mengganti spoon dengan lure minnow warna putih perak dengan kepala berwarna merah. Jleeeebbb... sambaran kuat menghantam lure dan menariknya ke pusaran-pusaran air yang mengalir deras di hilir batu. Joran kutahan sambil medikit mengendurkan drag. Wow... tarikannya terasa berat, aku senyum campur gemetaran. Membayangkan Lais Tebiring monster yang bakal menghiasi album fotoku di Facebook. Namun tarikannya mengendur drastis ketika mencapai sisi tepi yang arusnya agak tenang, kutarik perlahan, tidak ada perlawanan sama sekali... yang ada terasa berat seperti tersangkut sesuatu. Ketika hasil tangkapanku mengapung di samping perahu... jiahhhh.... ternyata Pari Sungai alias Karung Beras.... huh.... apes...

Bedug bertalu di masjid Al Fauziah, di susul merdu suara Azan penanda waktu sholat Ashar telah tiba. Semangat dan stamina menurun drastis, kuputuskan menyudahi perburuanku kali ini, mengayuh perahu perlahan menyeberani kapuas, Pulang...

(bersambung)


Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Kamis, 01 September 2016

Casbar 11


Late post nih. Ga apa apa yach, seperti biasa, alasan admin... sibuk masbrow. Maklum, waktu untuk kerja tidak boleh mengganggu waktu untuk mancing, eh... kebalik, ahahahaha...

Admin ga bisa cerita panjang lebar tentang Castbar A2FT kali ini karena Admin adalah peserta terakhir yang datang ke lokasi castbar, hehehehe... jadi... upload foto2 ajah yah...

Thanks..
















Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:



Delivered by FeedBurner


Senin, 30 November 2015

Mancing Gabus Musim Kemarau

Ari Satya Permana
Musim kemarau sebetulnya memberikan kemudahan tersendiri bagi pemancing gabus sepertiku. Debit air sungai, danau dan kanal-kanal turun sehingga ruang gerak buruan semakin sempit, otomatis strike rate meningkat... itu teorinya. Prakteknya ternyata jauh berbeda. Letak sungai sungai yang langsung bermuara ke laut sementara kanal kanal utama bermuara ke sungai sungai tadi membuat air asin masuk  jauh ke dalam  hingga kadang sampai ke parit-parit irigasi sawah tempat biasa kami menguber kocolan. Ikan gabus sepertinya enggan keuar dari persembunyainnya atau mungkin jadi malas makan, entahlah. Padahal menurut yang aku dapat dari berbagai sumber, ikan gabus daya tahannya luar biasa, dan pastinya sudah terbiasa dan bisa cepat beradaptasi dengan kondisi air dan lingkungan tempat tinggalnya.


Akan tetapi, hal itu tidak mematahkan semangat para penguber gabus. Ari Satya Permana, Budi Raharjo, Bachrul Ulum, Pery Irawan, Rakhmat Ramadhan, Si Aland dan Adrian Cobra tetap turun ke spot sasaran meski sudah tahu bakal disambut jernihnya air kanal yang masuk lewat pintu air. Air jernih yang seakan melenyapkan warna hitam air gambut khas kanal kanal di Kalimas.
Semula kami akan explore ke beberapa tempat yang belum pernah kami kunjungi namun kami batalkan karena air pasang telah naik tinggi, sementara kanal kanal yang akan kami explore sedang di normalisasi oleh 2 buah exavator besar. Akhirnya kami memutuskan untuk mencoba di bagian tengah saja. Hingga istirahat siang aku sama sekali belum strike. Terkecuali Ari yang memang turun paling awal, itupun strikenya di tempat lain. Begitu pula Rakhamt Ramadahn udah mengantongi masing-masing seekor gabus

Setelah puas beristirahat di warung penduduk setempat, kami melanjutkan uncal uncual. Kali ini rute yang kami tempuh sudah tidak berpatokan pada rencana semula, asal kanalnya ada genangan air, lempar. Terobos sana terobos sini hingga kami sampai pada satu kanal yang agak lapang. Ardian Cobra membuka strike siang itu di susul Bachrul Ulum, Aku kemudian Pery Irawan. 

Pery Irawan
Hinga sore hari tak ada lagi sambaran dan kami memutuskan lempar-lempar menuju arah jalan pulang. Tiba di Kalimas seberang kami masuk ke kanal-kanal di antara sawah, hingga 3 kanal kami jelajah tak ada satupun yang berhasil strike, sambaran banyak, sayang pada miss. 

Pukul 15 lewat kami menyudahi acara mancing, Sebelum bubaran kami ngumpul sebentar di depan Toapekong menunggu Budi Raharjo yang menyusul belakangan, sementara Si Aland dan Ardian Cobra ngga kelihatan batang hidungnya karena selepas di Kalimas proyek tadi sudah memisahkan diri. Tepat jam16 sore aku pamit duluan sementara Ari dan Budi Melanjutkan perbuaruan di seputaran sawah sawah di kalimas.


Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Castbar A2FT ke-8

Castbar Ke 8 A2FT
Abal Abal Fishing Team
Laporannya telat nih, tapi ngga apa apa ya. Maklum, bisalah kalau udah Agustusan, Admin sok ikut-ikutan sibuk, hahahahaha... Okeh mancinger, langsung hajar.


Sesuai kesepakatan bersama saat kumpul-kumpul di warkop pasar tengah, akhirnya Castbar A2FT ke-8 dilaksanakan bertepatan dengan HUT RI ke-70 yaitu tanggal 17 Agustus 2015. Semula aku hampir dipastikan tidak bisa hadir karena mendapat tugas untuk ikut upacara penurunan bendera di tempat kerja. Berbekal muka badak dan negosiasi super alot akhirnya pimpinan mengizinkan aku free karena telah ikut renungan suci di TMP semalam serta dengan catatan aku harus menggantikan teman yang tugas malam nanti. Well, no problem laaa... Pagi setelah seperti biasa bantu bantu nyonya rumah, aku cabut ke lokasi castbar.
Levi in Action
Sampai di Kalimas hampir jam 10, di salah satu kanal bang Kusnadi Qail dan Muhammad Syaifullah asik lempar-lempar kodok, sementara rekan-rekan lain pada mencar ke kanal-kanal lain. Setelah berkenalan secara singkat dengan keduanya aku cabut menyusul teman teman yang lagi ngumpul di depan pondok pengolahan gula merah. Andika, Ari, Levi, Bang Ali, Bayu serta Yudi juga sedang berhaha hihi ria.

Aku tidak segera memasang  peralatan tempur. Bagusnya jadi fotografer dadakan saja. Mengabadikan momen-momen lucu saat kami kumpul-kumpul begini. Tingkah polah para peserta, keseruan disaat ada teman yang strike atau mocel, heboh pokoknya...

Hingga menjelang tengah hari, kami istirahat di belakang sebuah pondok di tengah kebun kelapa. Yudi Bhoo langsung mengeluarkan peralatan masak. Satu persatu teman-teman yang tadi terpencar akhirnya berkumpul di satu titik yang kami jadikan basecamp. Begitu pula Marten dan Bayu yang sebelumnya sudah jauh di ujung kanal akhirnya kembali dan bergabung dengan kami. Selang beberapa saat Ardian datang di susul Anom sebagai peserta dengan kategori "Terlambat" ... hahahahaha. 19 Orang peserta castbar dari berbagai latar belakang berkumpul jadi satu ngalor ngidul tak tentu rudu, hihihihihihi....

Tanpa komando acara makan-makan dimulai karena aroma gabus goreng masakan Yudhie serta mie rebus masakan komandan Bayu menggugah selera. Nikmat rasanya makan-makan dengan menu alakadarnya di alam terbuka.
Marten, Kamang Lure
Dari Castbar yang lalu lalu hingga castbar terakhir, yang ke 8, barulah acara mancingnya di buat agak serius sedikit dimana untuk merangsang hahahaha... untuk memacu semangat peserta diadakanlah semacam kontes dengan kategori aneh-aneh plus hadiah-hadiah kecil dari mas Dionisius Adi Supono berupa Softfrog D'Lure, Kamang Triangle dari komandan Robert Marten Parengkuan dan 1 roll senar pancing/PE dari Komandan  Levi Paker, sementara dari saya berupa dua biji "Sangun si Katak Melumpat" 

Hadiah diserahkan secara langsung oleh Komandan Ari Satya Permana selaku Ngadimin A2FT. Berikut list para juara :

1. Juara "Strike Pertama" di rebut oleh Bayu Kurnia dengan hadiah KAMANG LURE
2. Juara "Peserta Terawal" disabet Ichwan Sinaga dengan Hadiah KAMANG LURE
3. Juara "Ikan Terbesar" jatuh kepada Dimas Maulana P dengan hadiah D'Lure
4. Juara "Ikan Terkecil" berhasil direbut Hanjoko Garcia D'Lure
5. Juara "Ikan terbanyak" jatuh kepada  Kusnadi Qail dan Rakhmat Ramadan dengan hadiah SANGUN
6. Juara "Termasak" jatuh kepada Yudhi Bho dengan Hadiah KAMANG LURE
7. Juara "Terpatah" jatuh kepada Saudara Anddry Gee Anzalone dengan hadiah 1 roll Line

Sang NGADIMIN A2FT
Dari Castbar yang lalu lalu hingga castbar terakhir, yang ke 8, barulah acara mancingnya di buat agak serius sedikit dimana untuk merangsang hahahaha... untuk memacu semangat peserta diadakanlah semacam kontes dengan kategori aneh-aneh plus hadiah-hadiah kecil dari mas Dionisius Adi Supono berupa Softfrog D'Lure, Kamang Triangle dari komandan Robert Marten Parengkuan dan 1 roll senar pancing/PE dari Komandan  Levi Paker, sementara dari saya berupa dua biji "Sangun si Katak Melumpat"

Komandan Joni
Menjelang jam 2 siang, seusai acara penyerahan hadiah kamipun melanjutkan acara mancing. Karena dari pagi aku belum dapat seekorpun gabus (mang dak mancing soalnya, hahahaha) aku setting peralatanku. Peserta udah menyebar ke bergagai titik si sepanjang kanal yang sebegitu banyaknya. Hampir satu jam lempar sana lempar sini akhirnya aku berhasil menipu seekor gabus. Alhamdulillah, aku tidak boncos, hehehehehehe....Karena malam nanti aku harus kembali bertugas maka jam setengah 4 sore aku pamit pulang.

Spesial Terima Kasih Untuk Dionisius Adi Supono, Levi Paker dan Robert Marten Parengkuan. 

Tak lupa Terima Kasih Untuk : Budi Raharjo, Andika Negara, Muhammad Syaifullah, Anom Alamak da satu rekan lagi yang saya lupa namanya. Semoga Tali Silaturrahim antara kita sesama penghobby mancing sambil menggile, bisa terus berlanjut.




Abal Abal Castbar ke 8 2015
Bayu, juara kategori Strike Pertama

Ichwan Sinaga,Juara Kategori Peserta Terawal


Dimas Maulana P
Dimas, Juara kategori Ikan Terbesar



Hanjoko, Juara Kategori Ikan Terkecil


Rakhmat Ramadhan, Juara Kategori ikan terbanyak pertama

Kusnadi, Juara kategori ikan terbanyak kedua
Anddry Gee Anzalone, Juara kategori Joran Terpatah

Yudhie Bhoo, Kategori Peserta Termasak, hehehehehe



Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Jumat, 25 September 2015

Toman Nyasar

Channa micropeltes
Bingung, iya asli bingung nguber gabus musim kemarau di sini. Air asin sampe masuk ke kanal-kanal irigasi sawah. Ga tau pada ngumpet kemana gabusnya. Jadi, ah pokoknya lempar-lempar ajalah. 

Lama ngga ke tanggul laut sungai Berembang membuatku memutukan untuk berbelok ke kanan selepas jembatan.Sampai di pertigaan pitu air Sungai Nyirih kuperhatikan debit air dengan seksama, jam segini ternyata arus pasang naik mulai melambat. Kulanjutkan perjalanan menuju pintu air kedua. Ketika akan masuk ke kanal ternyata di sana ada dua orang pemancing nila. aku banting stir melanjukan perjalanan menuju tanggul laut.



setibanya di kanal ketiga, aku tertarik dengan kondisi air serta jalan sebelah kiri kanal yg sudah tertata rapi dilengkapi sebuah jembatan terbuat dari kayu. Belok kiri dan berhenti di dekat sebuah pondok di tepi kanal, Setting perangkat lantas lempar-lempar dengan umpan spinnerbait.

Mancing Ikan Toman
Toman Sungai berembang
beberapa kali berpindah posisi hingga sampai di serumpun bambu yang tumbuh subur di tepi kanal. Kali ini umpan ku ganti dengan spinnerbait modifikasiku sendiri yaitu umpan softbait berbentuk worm (cacing) dikaitkan ke sebuah mata pancing khusus softbait. Kukombinasikan dengan membuat pemberat dari timah kecil yang terpasang di kepala umpan lantas dikaitkan dengan sebuah lengan spinerbait dengan satu blade yang dapat dibongkar pasang sehingga kalau ada spinnerbait yang patah, sisa jighead hooknya msih bisa aku manfaatkan.

Beberapa kali melakukan lemparan panjang di bawah rumpun bambu umpanku mendapat sambaran lumayan mengagetkan, maklum aku pake piranti ringan, joran kelas 12 lbs dengan pe 1 dan leader flurocarbon 20lbs. Sayang mocel. Penasaran dengan sambaran yang terasa agak lain membuatku terus menerus malakukan ke lemparan ke setiap titik yang aku curigai. Tepi seberang kanal yang penuh semak, di bawah ujung ranting yang menjuntai ke air hingga cerukan cerukan tanah sampai akhirnya sebuah sambaran ringan menyambar umpanku.

Mancing Ikan Toman
Save Borneo, hahahahaha...
Spontan ku getak dan yeah... akhirnya hookup. Ikan yang kupancing malah berenang ke arahku sehingga aku kelabakan menggulung rill. Ketika hampir dekat ikan berbalik arah dengan kencang. beruntung drang tadi sempat aku longgarkan sehingga lai mengulur dengan aman. Joran melengkung nyaris seperti huruf U membuat aku ketar ketir. Jeda tarikan ikan ku manfaatkan untuk mengangkat joran lantas menurunkan ujung joran sembari meretrive rell. berulang kali ikan melarikan umpan ke sana kemari memaksa aku ikut berjalan kadang setengah berlari bolak balik menyusuri tepi kanal. Stek Ubi kayu yang di tanam pak Tani setempat menghantam kakiku namun tak aku perdulikan. Akhirnya tarikan ikan melemah dan wow... ternyata ikan Toman.... (Channa micropeltes) buru-buru ku tarik ke tepi kanal lantar ku tarik perlahan dengan bantuan leader. Yess... joran 12lbsku sukses menaikkan Toman yang aku taksir beratnya sekitar 1 kiolan.

Seperti biasa, foto-foto lantas istirahat sejenak sambil ngebul. Gaya lama bray... nangkring di jok motor sambil bbm-an dan facebookan. Salah satu gambar kujadikan DP BBM dan Ping... mendapat tanggapan dari seorang sahabat mancingku. Diskusi berlangsung di sela keteganganku, sebab aku yanin sambaran pertama yang mocel tadi pasti lebih besar dari Toman yang barusan aku naikkan. Mau pulang ganti tackle seram dikit, tanggung. mau lanjutkan ngeri... dan akhirnya aku nekad melanjutkan perburuan mumpung masih pagi.

kali ini umpan ku ganti dengan torpedo seahawk seharga 35 ribu kalau ga salah, ujubuset... masih hook bawaan lure yang kalau dibengkokkan pake tangan aja bisa bengkang. Ah... sa bodo lah... pokoknya lempar....

Nek Pinang
baru dua kali lemparan ke arah depan si torpedo disambar dengan ganas. Yeah... strikee... dan kali ini tarikan lebih dahsyat dari yang pertama tadi. Spontan aku melepaskan ikatan tas dan melempar topiku ke dekat motor. Wow... tarikannya sangat terasa dengan joran ber lbs kecil plus action joran yg cendrung slow rapper. Untuk kali ini aku bener-bener menikmati pertarungan dan sedikitpun tidak mau lengah, drag kukendorkan lagi. begitu ada jeda segeraku tarik ujung joran agak ke atas sambil meretrive sedikit. beberapa kali nyaris di bawa sangkut ke semak semak di seberang kanal. beruntuk aku tidak segugup strike pertama tadi. Selang beberapa saat ikan akhirnya menyerah. tarikannya melemah. Dan jihaaaa... kali ini Tomannya lebih gede dari yang pertama. Dengan hati-hati ikan kutarik ketepi kanal. Joran kuletakkan ke tanah lantas kugapai leader. Dengan tangan kanan ku usap perlahan bagian bawah si Toman. Perlahan ku pegang bagian insagnya dan yess... Toman mendarat aman.

Setelah foto-foto, aku kembali melanjutkan perjalanan menyusuri kanal, Hingga ke tengah kanal hanya seekor gabus kecil yang berhasil aku naikkan, tak ada ada lagi sambaran toman. Di jembatan rusah di pertengahan kanal yang mengarah je Sungai Udang aku beristirahat sejenak. Sepertinya aku tak bisa melanjukan perjalanan hingga ke ujung karena baik kanal maupun tepian kanal sudah penuh semak. tepat jam 11 siang aku beranjak pulang


Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Senin, 03 Agustus 2015

Mancing Gabus Siang-siang

Aba Enim
Mancing Gabus
Pagi minggu, seperti biasa bantu-bantu orang rumah. Kelar semua hingga jam 09.00 WIB. Kalau biasanya dari semalam aku sudah berkemas mempersiapkan peralatan mancing, entah kenapa kali ini bawaanya malesssss aja. Kecapean karena baru tadi malam pulang dari tugas.

Hingga jam 10 pagi aku seperti orang kebingungan di rumah. Mau tidur siang rasanya masih kepagian. Melihat gelagatku yang seperti cacing kepanasan, Orang rumah maklum lantas menyuruhku pergi nguber gabus saja. Hureee, pucuk di cinta gabuspun tiba... hahahahaha. Kemas-kemas perangkat, jam 10.30 WIB aku cabut ke spot terdekat.

Sampai di kampung baru aku menuju kanal 2 tempat dulu aku sering melakukan test untuk JF buatanku. Kondisi air sedang pasang surut, hanya sayang air di kanal 2 terlalu jernih dan dangkal. Tapi ah tak salah kalau aku set peralatan mancingku di pintu air di sini fikirku, tokh nanti masih ada 4 kanal menanti.

Hingga pertigaan kanal di tengah kanal 2 hanya ada 2 kali sambaran kecil. Kulanjutkan ke ujung kanal dekat pondok pertama. Landed seekor gabus ukuran sedang. Alhamdulillah... sudah ada foto nih untuk di posting di blog, hehehehehe... 
Wawan Dharmawan
Wawan Dharmawan

Lanjut lagi balik arah dan keluar dari cabang kanal, landed lagi 2 ekor gabus kecil. Ketika gabus akan kulepaskan seorang petani datang menghampiriku. Akhirnya ketiga gabus perolehanku keuberikan kepadanya. 

Masuk ke jalan utama, kulihat ada dua orang tegeg mania melempar umpan di kanal utama yang airnya surut dan agak bening, eh ... sutrek gabus. Kuputuskan istirahat sejenak di bawah pohon pisang di tepi kanal dekat jembatan penyeberangan yang terbuat dari batang kelapa. Seteguk pocari sweat menyegarkan tenggorokanku. Nyalakan rokok dan duduk manis di atas jok motor. Sayang posisi si tegeg mania semakin menjauh, sehingga gambar yang ku ambil dengan HPku kurang jelas.

Casting Ikan Gabus
Ikan Gabus
Setelah puas beristirahat aku melanjutkan perjalanan. Kali ini aku berniat untuk mengikuti jejak si tegeg mania yaitu lempar lempar di kanal besar. Belum jauh motorku melaju aku berpasasan dengan rekan castinger. Ternyata si Wawan. Akhirnya wawan berbalik arah dan kami berduapun mulai mencoba peruntungan di kanal besar. Alhamdulillah aku sutrek lagi seekor, begitu juga dengan Wawan. 

TYepat jam 12 siang kami istirahat di sebuah warung. Ngalor ngidul hingga jam 1 siang kami kembali beraksi. Wawan dapat beberapa ekor gabus lagi. Kami lantas menuju kanal 3 yang pintu airnya tertutup rapat sehingga debit air setinggi tepi kanal. Semula aku pesimis karena beberapa kali melempar spinner tak ada satupun sambaran sementara wawan yang memainkan soft frog sudah sutrek 2 ekor gabus. Hingga ke tegah kanal barulah spinner mendapat sambaran lumayan mengagetkan dan akhirnya landed seekor gabus ukuran sedang. Setelah foto-foto gabus kulempar ke arah wawan di seberang kanal. 

Lajut hingga ke ujung mocel melulu. Kami berbalik arah dan aku hendak pamit duluan pulang karena tanpa terasa satu jam lebih sudah kami menyusuri kanal 3. Karena aku akan pulang wawan ngacir duluan kembali ke kanal besar sementara sambil bergerak keluar kanal aku masih melakukan beberapa lemparan. Karena sering mocel umpan ku ganti dengan inline spinner yang merknya aku lupa. Alhamdulillah hingga pintu air depan 7 gabus berhasil ku naikkan dan kesemuanya kulepas lagi karena ukurannya kecil-kecil. tepat jam 3 sore aku pulang.

Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner


Senin, 22 September 2014

Gabus Kalimas

Sabtu
Rencana turun mancing pagi-pagi gagal total, Maknyah minta di antarkan  ke Pasar Tengah. Well tu the well well... mau tak mau tancap gas laksanakan tugas.


Pulang dari pasteng hampir jam 12 siang. Cuaca panas "bedengkang" membuatku mengurungkan niat untuk segera ngacir ke spot gabus. Daripada bengong, kulanjutkan saja pekerjaanku semalam melapisi body beberapa SangunJF dengan lem cepat kering dilanjutkan dengan pemasangan skirt. Hingga jam 13.00 siang rampung juga 7 biji kodok kayu.

Tepat jam 14.00 Wib aku berangkat. Tujuanku Kalimas seberang. Namun, baru sampai di Pal 9 langit ke arah Kalimas tampak gelap. Akhirnya ketika tiba di Parit penjara, aku memutuskan belok kanan. Wow, jalan sepanjang tepi kanal sudah beraspal mulus. Sampai di sebelah kebun jeruk aku berhenti sejenak. Kuperhatikan kanal di seberang sawah tepiannya tampak lapang. Kebetulan air baru saja pasang naik, tak salah pikirku singgah sejenak untuk menguji ke-7 JF rautan tanganku.

Parkir motor di dekat baliho yang tulisannya sudah tidak jelas lantas berjalan menyusuri pematang antara sawah dan kebun kelapa. Sampai di tepi kanal nyalain rokok, minum air mineral lantas setting tackel. Tas ku letakkan di atas tanah lantas membongkar kotak umpan. Pilihan pertama jatuh pada Sangun dengan ekor warna warni, ekor bekas dari spinner dan beberapa JF yang actionnya gagal. Begitu di lempar, tuiinngggggg... Sangun anyar tersebut terbang jauh. Ketika di retrive, Alhamdulillah, langsung meloncat-loncat dengan indah disertai cipratan air yang meriah plus bunyi cepluk-cepluk setiap kali mulutnya menabrak air. Satu-persatu dari Sangun baru yang ku bawa ku test. Semuanya sukses.

Angin kencang yang tiba tiba datang membuatku hampir saja membatalkan niat untuk menyusuri kanal hingga jembatan kecil di ujung kanal. Beruntung barisan pohon pisang yang berjejer rapi di sepanjang tanggul kiri cukup buat penghalang angin hingga tidak terlalu mempengaruhi lemparanku, kebetulan pula JF yang aku buat rata-rata berukuran besar dan terasa berat dengan panjang 5 hingga 6 cm. Sayang hingga sampai ke jembatan tak ada satupun sambaran. Aku berbalik arah ke tempat semula sambil terus melakukan lemparan ke sana ke mari, tetap saja nihil. 

Beranjak dari kanal tersebut aku melanjutkan perjalanan. Sampai di sebuah kolam pemancingan baru. Aku berhenti sejenak didepannya, terlihat seseorang sedang fight dengan ikan, sayang mocel. Kuteruskan perjalanan dan berbelok ke kanak memasuki tanggul dengan pintu air yang baru pula. Sampai di persimpangan kanal di tengah aku berhenti sejenak dan masuk ke kanal kecil di kanan. Hingga bagian ujung kanal yang bersemak tak ada satupun sambaran. Keluar dari kanal tersebut aku memacu lagi revo maknyah menuju arah berembang karena kulihat langit  ke arah Kalimas semakin gelap saja. Tiba di kanal dekat masjid aku belok kanan lantas masuk ke kanal kecil di sebelah kiri, tampak air semakin kencang masuk kekanal. beberapa kali lemparan di bawah pohon akasia tak membuahkan hasil aku keluar dari sana terus melanjutkan perjalanan. Sampai di depan pendok penggilingan padi, aku menyeberang kanal besar menuju tembusan kanal ke parit keladi, sayang air tinggi. Aku lantas keluar dari jembatan di ujung berbalik lagi ke jalan utama. Tiba di jalan bersemen aku memutuskan untuk mencoba ujung tanggul yang di dekat masjid tadi. Berjalan melintasi sawah yang baru habis panen lantas bolak balik di kanal tersebut. tetap saja nihil.

keluar dari sana aku melanjutkan perjalanan, tiba di perapatan kanal aku berbelok ke kiri yang kalau kita lurus bakal tembus ke Sungai Itik. Namun aku memutar lagi ke kiri menyusuri tanggul tanah yang di samping kanannya terdapat kanal bersih, sampai ujung kanal dekat pintu air yang berhadapan dengan tanggul utama Parit Keladi aku mencoba peruntungan. Hanya ada satu sambarabn kecil namun miss, ku ulang beberapa kali si kocolan tak lagi merespon.

Cabut dari sana aku memutuskan untuk langsung saja menuju kalan 5 di berembang darat. Ketika tiba di sana aku berhenti di ujung kanal buntu yang bermuara ke sungai besar. Gelamung-gelembung kecil di dekat semak di samping kanan kanal memuat aku tertarik untuk menggoda mama gabus. Mau tak mau Hinomiya mungil jadul turun tangan. Aseli bangbrow... lemparan pertama langsung di sambar. Jiahhhhh... strike deh. Fight sejenak dengan rumput dan tumbuhan air akhirnya si gabus nongol. Setelah sesi foto berahir, si gabus kulepaskan lagi, kasihan anak-anaknya ntar pada yatim piano. Gilaaaakkk... udah jam 14.30 baru strike seekor doank, ancoreeeeee....

Istirahat sejenak di dekat tumpukan padi yang ditutupi dengan terpal biru sambil ngebul-ngebul seperti biasanya. Puas beristirahat aku cabut dari kanal karena air semakin tinggi. Joran pancing belum ku kemas, aku memutuskan mampir sebentar ke bekas kolam pemancingan di berembang laut. Sanyang hingga jam 17.00 WIB tak ada satupun sambaran, Aku cabut pulang.

Minggu
Umpan Mancing Ikan Gabus
Sangun JF
Penasaran dengan hasil yang memuaskan kemaren, pagi-pagi selepas bantu-bantu di rumah aku berangkat jam 06.30 WIB. Sampai di Kalimas langsung menyeberang ke Kalimas seberang, Ambil kanan dan terus menyusuri kanal hingga sampai di pintu air pertama. Setting tackle dan lempar-lempar di kanal utama yang sepertinya baru beberapa hari lalu di bersihkan. Silih berganti dari ketujuh Sangun kemaren ku coba. Ada beberapa sambaran, sayang miss.

Beranjak dari pintu air pertama kau meneruskan perjalanan. Sampai di Pintu Air kedua, Aku mencoba lagi, Kali ini spinner baru buatanku yang dapat giliran karena kulihat air kanal masih tinggi. Dalam beberapa kali lemparan akhirnya nyagkut juga seekor kocolan. Seperti biasa, foto-foto dan kulepas lagi ke kanal. Pindah dari sana aku bergeser ke sebelah titian dari batang kelapa yang menghubungkan jalan di tanggul dengan sawah di seberangnya. Kali ini aku mencoba buzzbait buatan sendiri. Sayang, dua buas buzzbait buatanku tersebut actionnya kurang sempurna, yang satu mereng ke kanan dan yang satu lagi larikya ke kiri terus, cucccccoookkk ddeeeehhhh...

Bergerak lagi ke prapatan kanal dan kali ini lagi lagi Sangun beraksi karena kulihat arus air mulai melambat. Walhasil naik juga seekor kocolan. Alhamdulillah, Sangun JFku akhirnya amis lagi. Bolak balik dari perapatan sampai titian tadi aku berhasil strike beberapa kali. Hanya saja tak satupun dari gabsu tersebut yang ukurannya besar, kesemuanya ku taksir rata-rata paling tinggi 1 ons per-ekor. Kesemua gabus ku rilis kembali karena tak ada satupun yang cedera berat. Hook menancap paling di ujung bibirnya, jadi ku fikir aman-aman saja kalau aku lepaskan kembali.

Istirahat sejenak di bawah sebuah pohon sambil menikmati udara pagi, ngebul-ngebul sembari coba-coba cari singnal siapa tau bisa upload gambar gabus ke FB, sayang kuota bangkrutttt.... hihihihihih. Lajut lagi menuju kanal depan pondok pengolahan gula kelapa. Parkir motor di jalan utama lantas masuk ke dalam. Pada lemparan ke tiga, Sangun JF mendapat sambaran dahsyat. Si Gabus langsung melarikan diri ke bawah alga di tengah kanal. Dengan joran selentur venom 14lbs susah payah gabus ku tarik keluar. Wowwww... mamamiaaaa... seekor gabus gede landed. Fotonya... huaahahahaha... jangan tanya, belasan... Gabus ku amankan ke dalam karung bekas pupuk Pak tani dan ku ikat di semak tepi kanal.

Hari semakin siang, adrenalin terpacu lagi setelah barusan berhasil menaikkan seekor gabus yang lumayan gede. Bergerak terus ke dalam hingga sampai di rumpun bambu dan beristirahat sejenak. Mataku tajam mengawasi buih-buih kecil di seberang kanal tepat di bawah pelepah daun kelapa yang menjuntai ke tengah kanal. Setelah puas ngebul aku mengganti umpan dengan softfrog tiny surecat jadul berwarna kuning kehitaman. kodok bekas tempur beberapa tahun silam. Hook yang entah dari bekas kodok yang mana kupasang ke tiny tadi malam. Lagi-lagi pada lemparan pertama si tiny langsung di sambar, Finght sebentar dan senyap seketika. Yang nyangkut di body tiny hanya segumpal alga, aku memeriksa si tiny. Ternyata bodynya  kempes pada bagian punggung sehingga kedua ujung hook mencuat keluar, pertanda bahwa body tiny memang telah tercengkeram gigi si gabus. Sayang di bagian moncong , body tempat kawat sangkutan snap terkoyak kehingga baik kawat maupun hook maju ke depan  terbalik seperti biasanya, otomatis ujung hook susah menancap ke langit-langit mulut si gabus karena tertahan bagian belakang body... yaaaaaa.... mocceeelll.

Karena masih kesal, segera saja si tiny ku ganti dengan si Swan. Hingga ujung kanal dekat depan kebun jeruk, landed beberapa kocolan. Sampai di bagian kanal yang agak lapang, kembali Sangun JF dan saudara-saudaranya kuuji. Berturut-turut ketujuh-tujuh kodok kayu tersebut berhasil menggoda gabus. Karena karung yang kupakai menyimpan gabus di muara kanal tadi lumayan jauh, semua kocolan kulepaskan kembali ke kanal. Aku kembali bergerak ke arah semula menuju bawah pohon bambu.

Tak terasa sudah setengah sebelas siang. Aku kembali beristirahat. Buka baju brow, puanasnya edduunnnnn. Untung angin dari arah sawah bertiup terus dari tadi hingga acara ngebulku terasa menyenangkan. Mataku tetap mengawasi pergerakan anakan gabus di awah pelepah kelapa yang menjuntai ke tengah kanal tempat di mana mocel indukan tadi, ya pasti indukan karena kurasa perlawanan yang lumayan darinya.

Setelah puas beristirahat. Aku kembali mencoba menggoda si mamy gabus. Siapa tau mulutnya tidak terkena hook si tiny tadi. Ujung tombakku kali ini kembali ke Swan budug yang warnanya udah tidak karuan. Lemparan pertama tak mendapat respon. Lemparan kedua si gabus langsung menyambar dahyat. Kudiamkan sejenak memastikan apakah sambaran tersebut telak dan si swan tertelan habis. Handle ku putar perlahan, terlihat tali bergerak dan di tarik dari dalam air. Setelah merasakan sedikit kedutan di ujung joran, joran ku sentak dan strikeeeeee.... Akhirnya hookup sempurna. Lagi-lagi aku harus bersusah payah menaik gabus keluar dari alga, kepala gabus nongol sebentar di permukaan air, lantas si gabus kembali bergerak liar. Umpan dilarikannya ke bawah kangkung di tepi kanal, waduh, kutarik tarik tak bergerak. Terpaksa deh, nyebur. Setelah melewati perjuangan yang sedemikian melelahkan, akhirnya gabus berhasil aku taklukkan. Foto-foto seperti biasa dan si gabus kubiarkan tergeletak di samping tas pancingku. Mengaso sejenak sambil ngebul. Indukan kulepaskan kembali ke arah gerombolan anak-anaknya yang kini berada tepat di depanku di bawah pohon bambu.

Tak terasa sudah jam 11.30 siang. Pasukan cacing dalam usus sudah mulai ribut. Sambil bergerak kembali ke muara kanal aku kembali melakukan lemparan. Landed ladi dua ekor gabus ukuran agak kecil dari si mama tadi, Keduanya kuamankan ke dalam karung yang tadi ku ikat di tepi kanal. Tepat jam 12 siang aku cabut pulang membawa gabus satu karung 50kg (isinya 3 ekor gabus doank, jiakakakakakaka....)

Jika anda merasa artikel di blog ini bermanfaat dan ingin berlangganan, silahkan masukkan alamat email anda pada kotak di bawah ini:


Delivered by FeedBurner